The Little Lion
Pagi dengan sangsurya beranjak menampakkan aura hangatnya. Anna dengan wajah bantal melangkah keruang dapur, rasa sesak didada kembali ia rasakan yang tadinya terbawa lelap menyadari tidak ada lagi tubuh munyil yang menabrak manja kaki mulusnya saat mengambil piring bening.
“Kiko”. Terucap dari bibir Anna, dengan nada rendah terhambur di seluruh sisi rumah yang menyimpan sedikit(banyak) kenangan membisu, dia menguras air hangat dalam tubuh Anna, meleleh mengikuti garis pipi dan membuatnya sesak menghirup udara pahit dipagi itu. Sesekali Anna menghapus air dipipinya, matanya tak tahan melihat take gambar yang diambil terakhir kalinya. Tubuh kurus berbulu lembut dengan warna bak Singa yang duduk disinggasananya. Pecah sudah rintihannya.
Matanya kini membengkak memandang piring kaca yang kosong. Memutar kembali DVD memori otaknya. Pikirannya traveling tanpa tujuan menerka negatif diwaktu itu.” Apa mungkin dengan kaki kecil rapuhnya Kiko keliling kampung sendirian? Ataukah anak penyupir yang sempat berurusan dengan papa untuk merajut ban mobilnya yang bocor mempersilahkan Singa kecilku masuk ke dalam kereta besi itu?. Qalbunya berusaha membujuk kesabaran hadir.
Dimanapun kau kini semoga bahagia dengan majikan barumu jangan nakal disana, "kau tahu Kiko?, aku kirimkan surat perpisahan kepada Tuhan lewat angin yang menerbangkan kerinduan". Gumam Anna sendiri dimeja Makan masih dengan piring yang kosong bak kosongnya ruang dipagi itu

Komentar